Print This Post
Seharian bersih-bersih rumah. Dari buang-buangin barang yang ga penting, bersihin semua sandal dan sepatu memindahkan kardusnya ke atas, nyapu, ngepel berkali-kali, nyuci keset, nyuci serbet, pokoknya komplit.
Intinya segala sesuatu yang ada di ruangan bawah mesti bersih dan rapi.
Cape pake banget !
Untungnya aku ga harus masak untuk keesokan harinya.
Bahkan untuk makan malam hari inipun aku ga menyiapkan sama sekali.
Alhasil waktu beduk maghrib cuma ngemil seadanya dan minum air putih, padahal tenaga banyak keluar dalam acara bersih-bersih rumah ini.
90% pekerjaan udah selesai waktu adzan Isya berkumandang.
Acara selanjutnya mandi dan meluncur ke Malioboro buat ambil jatah opor, sambal goreng, dan lontong .
Memang kali ini aku sengaja ga masak ribet sih.
Waktu sampai pertigaan pasar kembang sebelum stasiun tugu, ketemu deh ama rombongan karnaval anak-anak yang mengumandangkan takbir.
Mereka berdandan layaknya karnaval. Ada yang bawa obor rombongannya, ada yang bawa lampion, trus ada replika masjid diusung dengan bahan bermacam-macam (bahkan ada yang dari bahan gelas bekas air mineral).
Rasa haru campur aduk gimana ya.. ga bisa dilukiskan waktu dengar kalimat-kalimat takbir, bahkan aku sampai menahan biar ga jatuh air mataku saking campur aduk perasaanku mendengar kalimat takbir dikumandangkan berulang-ulang.
Sampai Malioboro yang macet penuh pendatang. Setelah masuk ke dalam rumah dan menyiapkan segala sesuatu yang mau dibawa pulang, honey mengajakku ke masjid DPRD kawasan Malioboro.
Kami jalan ke selatan dan menyeberang menuju masjid DPRD untuk membayar zakat fitrah.
Anehnya ya.. zakat fitrah yang wajib malah baru sempat kubayar malam ini, padahal zakat penghasilan kami dan shodaqoh yang lain sudah kuberikan kemarin.
5 kg atau untuk zakat fitrah 2 orang dihitung 30 ribu. Sewaktu uang 50 ribuan diserahkan dihadapanku pun diserahkan 2 plastik beras yang menurutku… jauh dari yang sehari-hari kumasak.
Padahal zakatnya kan dihitung 1 kg nya 6 ribu seharusnya beras yang didapat pun bisa lebih baik dari itu.
Aku aja beli beras per kg nya ga sampai segitu padahal harga eceran dan kondisi berasnya jauh lebih baik dari yang tadi.
Panitianya pun kurasa kurang profesional mengurusnya (selain masalah beras). Tanda terimanya pun seadanya hanya ditulis zakat fitrahnya saja.
Terakhir aku membayar zakat fitrah (bukan di masjid DPRD) tanda terimanya jelas, ada kolom pembayaran zakat fitrah dan kolom shodaqoh (ini biar transparan laporannya).
Aku ga pernah bayar zakat fitrah ngepas sesuai harga 2,5 kg beras. Hal ini udah terbiasa sejak aku masih ikut orang tuaku.
Bukan masalah ga iklas ya.. cuma aku lihat fakir miskin yang udah antri di halaman masjid kok ngenes gitu..semestinya mereka patut dapat yang lebih baik di hari yang fitri.
Ya mudah-mudahan panitia zakatnya benar-benar bersih.
Di saat banyak orang sibuk membeli baju baru, membeli kue-kue mahal, masakan yang mewah kontras dengan para fakir miskin yang berbaju dan berwajah kumal bin dekil.
Sekali lagi aku menahan air mataku jatuh melihat kondisi itu di halaman masjid DPRD Malioboro.
Keluar dari halaman DPRD, jalan menyusuri trotoar menuju kembali ke rumah. Sepanjang lesehan Malioboro full manusia !!!
Sepertinya mereka pendatang dan benar-benar penuh sampai antri-antri di sepanjang penjual makanan lesehan Malioboro.
Ya Allah… sementara di luar banyak orang mengantri beli makanan enak dan mewah (lesehan jual ayam, bebek, burung dara goreng dll) di dalam halaman masjid banyak berkumpul fakir miskin yang mengantri hanya demi 2,5 kg beras !!!
Aku yang terlalu perasa atau… ah mbuh donya makin ga karuwan !!!
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL
October 3rd, 2008 at 1:43 am
1 kilo 66 ribu yah mbak?
di sini malah dbeda2….ada yg bilang 4.600…ada pula masjid yg genapin jadi 5000