Print This Post
Seharusnya di tahun 2008 ini bukan era Islamphobia lagi. Sudah banyak instansi dan kantor-kantor swasta yang memiliki pegawai wanita berjilbab. Jilbab bukan halangan seseorang untuk berkarya.
Tetapi hal ini dialami oleh seorang gadis berusia 26 tahun yang berprofesi sebagai perawat di RS Mitra Bekasi Barat Jakarta bernama Wine Dwi Mandella.
Sebetulnya aku baca ini di salah satu milis yang kuikuti (sekedar buat bacaan aja ga pernah aktif
) tapi respon yang luar biasa di milis itu membuat aku tergelitik buat mencari tau berita selengkapnya.
Ternyata kasus ini menimpa Wine 7 bulan lalu dimana dia mulai terang-terangan menggunakan jilbab untuk bekerja melengkapi seragam perawat yang diwajibkan oleh kantor.
Wine menambahkan manset tangan dan jilbab untuk kelengkapan seragamnya, dan disinilah awal persoalan.
RS Mitra menganggap Wine melanggar peraturan perusahaan pasal 17 yang berisi tentang seragam dan perlengkapannya.
Pada hari dimana Wine mulai terang-terangan menggunakan jilbab saat bekerja langsung diperintahkan untuk membuat surat pengunduran diri.
Berikut cuplikan berita dari Republika
Wine sempat bersitegang dengan Manager HRD RS Mitra, E Setyodewi. ”Saya menggunakan pakaian seragam kerja. Hanya saya tambahkan manset warna kulit, serta jilbab warna rambut (hitam), agar tidak terlalu mencolok,” katanya.
Tapi, Wine mengaku terus ditekan. ”Dewi bicara dengan mata melotot, berkacak pinggang, dan sambil menggebrak meja dia mengancam akan mem-black list nama saya dari seluruh rumah sakit di Jakarta.”
Wine kemudian dipaksa membuat surat pengunduran diri. ”Saat itu saya membuat surat pengunduran diri dengan alasan dikeluarkan karena tidak boleh menggunakan jilbab saat bekerja,” katanya kepada Republika di rumahnya, di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Tapi, Setyorini menilai pernyataan Wine terlalu ekstrem. Wine kemudian diminta membuat surat pengunduran diri tanpa disertai alasan. Wine menolak. Dia meninggalkan tempat itu usai meninggalkan kartu pegawai, kartu HMO (kartu berobat), dan kunci loker yang dirampas.
Selanjutnya, RS Mitra mengirimkan surat beberapa kali ke rumah Wine, diakhiri dengan surat keputusan bahwa Wine dianggap telah mengundurkan diri karena mangkir selama lima hari kerja tanpa keterangan. ”Sudah jelas ini permainan pihak rumah sakit, karena mereka tidak mau melakukan pemecatan pada karyawannya,” kata anak kedua dari empat bersaudara ini.
Wine bekerja sejak 2004 dan mulai berjilbab pada 2005, karena perusahaan melarang karyawatinya untuk berjilbab maka Wine hanya menggunakan saat berangkat dan pulang bekerja saja.
Tapi mungkin aja batinnya berontak ya.. keinginan total berjilbab makin kuat, tapi ya begitu resiko yang didapat.
Tapi menurut kabar Wine sendiri mengklaim kalo perawat wanita di RS Mitra tersebut sebenarnya 90% berjilbab, cuma karena peraturan perusahaan yang begitu maka mereka menghadapi pergolakan batin, mengikuti keyakinan dengan resiko kehilangan mata pencaharian, atau bekerja dengan pergolakan batin.
Dilema ya..
Saat ini memang sudah ada penyelesaian yang ditawarkan oleh pihak RS Mitra (ini gara-gara si Wine ga terima dan menuntut RS Mitra dengan menggandeng pengacara dari TPM / Tim Pengacara Musilm)
Yang jadi pertanyaan kenapa di era kebebasan hakmasih saja ada yang diskriminatif seperti ini?
Bank swasta pun sudah banyak karyawati berjilbab dimana kebanyakan karyawati bank biasanya harus tampil menarik, dan di perusahaan bidang lainnya pun juga demikian.
Aneh memang ya..
Seragam Perusahaan memang suatu kewajiban bagi karyawan dan karyawatinya tetapi bukankah berjilbab merupakan hak asasi ?
Seharusnya keduanya bisa disinkronkan…
Semoga tidak terjadi lagi kasus seperti ini di lain tempat.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL
November 14th, 2008 at 9:06 pm
Sepertinya udah ngga jaman ya yang kayak ginian..
November 15th, 2008 at 12:16 am
kok masih ada saja yang mendiskriminasi orang lain…
menurutku sich sebenarnya bukan kerena alesan ideologis atau apa, hanya karena inggin memecat si karyawan adja tuch…. (seperti kecuriagaan si korban– bener)
November 15th, 2008 at 8:36 am
kembali ke jaman jahiliyah.
November 15th, 2008 at 5:34 pm
ye…kakak tentara wanita aja nggak boleh pake jilbab.aku berfikir kenapa demikian??kenapa kerjaan malah persoalkan agama???untung kakak nggak tinggal di kotaku,he….he…bisa senewen lihat org di sini,he…he…diskriminasi semua,tentang agamalah,sukulah,jilbab,pakaiyan org,ya semualah (kacau….kacau…)
November 16th, 2008 at 4:08 am
lho?! masih ada toh yang begini?!
ck ck ck … luarbiasa. ngga habis pikir saiyah ..
November 16th, 2008 at 1:03 pm
Ada alasan tersendiri Pastinya, Tapi alasan apapun itu, saya sangat tidak suka dengan adanya Deskriminasi dalam Bentuk apapun, Termasuk Pelarangan Jilbab.
November 20th, 2008 at 10:58 am
wew…
ternyata masih jaman yah?!
emang RS.Mitra itu RS milik sebuah keyakinankah???
tapi……kayaknya ‘diskriminasi jilbab’ dah gak jaman lagi sekarang…
di kampusku…..yang org mengenal dengan kampus ‘sebuah keyakinan’ ada dosen yg berjilbab..
heran deh klo masih mempermasalahkan hal2 seperti itu…
kayak gitu tuh klo lebih mengutamakan penampilan ketimbang otak!!